Pembangunan Infrastruktur di Mata Pelancong

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan infrastruktur sangat mendukung perkembangan pariwisata.  Pembangunan infrastruktur, di mata wisatawan, bermakna mempersingkat waktu perjalanan, menurunkan anggaran perjalanan, dan yang terpenting, meningkatkan kenyamanan perjalanan.

Lebih Singkat, Lebih Nyaman, Lebih Murah

Dalam kurun waktu empat tahun memimpin Indonesia, pemerintahan Presiden Jokowi telah menghidupkan kembali dan mengembangkan 408 bandara di seluruh Indonesia.  Dan ini masih ditambah dengan  pembangunan bandara baru  seperti Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat; Bandara Maleo di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah; dan Bandara Werur, di Tambrauw yang berdekatan dengan kawasan wisata Raja Ampat, Papua Barat.

Saya masih ingat ketika  tahun 2008 melakukan perjalanan ke Putussibau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.  Saat itu, pesawat hanya melayani penerbangan Pontianak-Putussibau dua kali seminggu sehingga waktu perjalanan harus diatur sedemikian rupa agar saya kembali pada saat ada penerbangan balik ke Pontianak. Ketika itu, fasilitas di Bandara Putussibau sangat menyedihkan.

Toiletnya berupa WC jongkok yang kotor, hanya ada ember besar dan gayung. Kondisi itu bisa saya tolerir, tapi pintunya tidak bisa dikunci dari dalam dan bagian bawah pintu ada celah cukup besar. Saya membayangkan jika ada penumpang perempuan yang berusia lanjut memerlukan fasilitas WC di bandara dan kondisinya seperti itu.  Tapi, mimpi buruk itu sekarang sudah berlalu,  Bandara Pungussuma di Putussibau sudah diperbaiki dan  terlihat bagus.

Tahun 2016 saya sangat beruntung bisa terbang ke Morotai, pulau terluar di Provinsi Maluku Utara. Saat itu, penerbangan Ternate-Morotai baru beberapa hari dibuka.  Bandara Morotai sempat mati suri  selama beberapa tahun sebelum akhirnya dihidupkan lagi tahun 2016 dan sekarang  melayani penerbangan setiap hari ke Ternate.

Penerbangan Ternate-Morotai hanya butuh 1 jam. Jika saya melakukan perjalanan lewat laut dengan ferry, saya perlu  waktu 2 hari yang melelahkan. Pertama-tama, dari Ternate saya harus menyeberang ke Sofifi di Pulau Halmahera naik ferry. Dari Sofifi dilanjutkan dengan jalan darat ke Pelabuhan Tobelo. Dari Pelabuhan Tobelo  naik ferry ke Pelabuhan Morotai.

Karena ferry ke Morotai hanya ada pada jam tertentu pagi hari, saya harus menginap dulu di sekitar Pelabuhan Tobelo.  Jadi, jalur pesawat Ternate-Morotai amat sangat membantu, menyingkat waktu, menghemat biaya, dan tentu saja lebih nyaman.  “Dengan dibukanya kembali Bandara Morotai, perekonomian mulai bergeliat,” kata Pak  Muhlis yang memandu saya di Morotai. Sebelum ada penerbangan langsung ke Morotai, Pulau Morotai yang berada di pinggiran itu seperti terlupakan.

Penghidupan kembali bandara-bandara yang sempat mati juga sangat menguntungkan wisatawan yang “mengejar waktu”.   Sejak Bandara Banyuwangi dibuka kembali, perjalanan Surabaya-Banyuwangi lewat udara hanya menempuh waktu kurang dari 1 jam, sedangkan perjalanan lewat darat dengan kereta atau bus memerlukan  waktu antara 7-8 jam.

Hal yang sama juga terjadi ketika  Bandara Silangit di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara dihidupkan kembali.   Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, tidak jauh dari Danau Toba, sudah beroperasi menjadi bandara komersial pada 2012.  Tetapi Bandara Silangit hanya melayani pesawat-pesawat kecil, artinya, tiketnya pasti mahal.

Sehingga, untuk menuju Danau Toba dari Kota Medan, wisatawan lebih memilih lewat darat. Waktu tempuh dari Kota Medan ke Parapat, kota terdekat Danau Toba, lewat perjalanan darat, memerlukan waktu 6 jam. Tahun 2016, landas pacu Bandara Silangit diperpanjang sehingga bisa didarati pesawat jenis ATR.

Dengan pesawat, waktu tempuh dari Bandara Kualanamu, Medan ke Bandara Silangit hanya 50 menit. Tahun 2017, Bandara Silangit naik kelas menjadi bandara internasional dengan nama Bandara Internasional Sisingamangaraja. Landas pacunya ditambah dan bandaranya diperindah. Sekarang, Bandara Internasional Sisingamangaraja   melayani penerbangan langsung  ke Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia. Pelaku usaha wisata banyak yang girang karena peningkatan tersebut dapat memajukan dan mengembangkan pariwisata di kawasan Sumatera Utara.

Sebelum tahun 2014, kota-kota di Indonesia Timur seperti Ende, Labuanbajo di NTT, dan Gorontalo, bandaranya sangat kecil, mirip rumah tinggal.  Di Labuanbajo, tahun 2000 saya pernah mengantar wisatawan asal Jerman, dia menanyakan mengapa pengantar bisa masuk ke dalam ruang tunggu penumpang. Saya tidak bisa memberikan jawaban memuaskan karena bangunan bandara memang  kecil dan batasnya tidak jelas.

Sekarang, saya tidak lagi menerima pertanyaan itu karena bandara di Gorontalo, Ende, atau Labuanbajo sudah diperluas dan memenuhi standar internasional.

Bandara Gorontalo 2011 (dokpri)
Bandara Gorontalo 2011 (dokpri)

Dengan kata lain, penghidupan kembali bandara-bandara yang mati suri dan pembangunan bandara baru yang dekat dengan tempat-tempat wisata  membuat perjalanan menjadi lebih singkat dan lebih nyaman. Hal itu belum memperhitungkan hasil ikutan seperti menggeliatnya kegiatan ekonomi.

Jalur Kereta Trans-Sulawesi?

Infrastruktur jalan, bagi dunia pariwisata, ibarat pembuluh darah yang memberikan oksigen ke sekujur tubuh. Tanpa sarana jalan yang baik, sangat mustahil kegiatan pariwisata dapat hidup.

Pemerintahan Presiden Jokowi melalui Kementerian Perhubungan membangun jalur kereta api sepanjang 754,59 km spoor dan peningkaan dan rehabilitasi jalur sepanjang 413,6 km spoor. Saat ini, jalur KA yang menghubungkan Kota Makassar di Sulawesi Selatan, dan Parepare di Sulawesi Tengah sedang dikerjakan.

Cita-cita mulianya adalah membangun jalur kereta api trans-Sulawesi yang menghubungkan Makassar di selatan dan Manado di utara. Jika jalur kereta api tersebut beroperasi, pencapaian tersebut adalah luar biasa mengingat setelah kemerdekaan Indonesia, baru nanti Pulau Sulawesi memiliki jalur kereta api.

Saya teringat tahun 1999 ketika melakukan perjalanan darat trans-Sulawesi dari Manado hingga Makassar. Dalam perjalanan tersebut, saya melalui beberapa etape: Manado-Gorontalo, Gorontalo-Poso, Poso-Toraja, dan Toraja-Makasar.  Di setiap etape tersebut, saya bermalam untuk mengistirahatkan badan dan juga melihat-lihat tempat wisata.

Dari seluruh ruas jalan tersebut, Gorontalo-Poso adalah jalan yang terjelek dan sangat berisiko. Bus yang kami tumpangi harus melewati kubangan kerbau yang becek dan licin. Ketika ada truk yang tergelincir dan posisinya menghalangi  jalan, bus yang kami tumpangi dan banyak kendaraan lain terpaksa terhenti, tidak bergerak.  Kami sempat bermalam di jalan (di bus).

Perjalanan tertunda sehari sampai truk yang hampir karam itu bergeser.  Karena berjalan di kubangan kerbau, automatis waktu perjalanan menjadi lama. Tidak ada yang dapat kami dan penumpang lain lakukan selain menunggu.   Saat itu, melakukan perjalanan ke daerah-daerah terpencil sangat berisiko karena minimnya infrastruktur dan buruknya kondisi jalan.

Ketika harus melewati jembatan yang ringkih, bus dan truk juga harus jalan bergantian untuk mengantisipasi jembatan runtuh. Tahun 1999, bus pariwisata hanya ada untuk rute Toraja-Makassar. Bus angkutan antarkota  lainnya kondisinya pas-pasan bahkan minim.

Untuk bus-bus di Pulau Jawa kondisinya mungkin lebih baik, tapi di wilayah Indonesia bagian timur, kondisi bus antarkotanya terbilang jelek. Bayangkan, agar bisa duduk sedikit nyaman pada perjalanan jauh Gorontalo-Poso, saya harus membayar dua tempat duduk untuk perjalanan selama 32 jam itu.

Bus antarkota di Sulawesi Utara-Tengah tahun 1999
Bus antarkota di Sulawesi Utara-Tengah tahun 1999

Saya membayangkan dengan mata yang berbinar-binar  dan penuh harap seandainya jalur kereta trans-Sulawesi sudah jadi dan beroperasi.  Betapa indahnya ketika kereta melaju melalui persawahan di Sulawesi Selatan.

Tidak terbayangkan pemandangan laut lepas ketika kereta melaju sepanjang Teluk Tomini di Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.  Tujuan wisata di setiap kota  yang dilewati dapat berkembang demikian pula kehidupan ekonominya, dan perjalanan bisa berlangsung nyaman dengan pemandangan yang spektakuler.

Rehabilitasi spoor kereta di Pulau Jawa juga sangat menguntungkan wisatawan. Saya merasakan nikmatnya naik kereta Joglosemar, rute baru yang menghubungkan Purwokerto hingga Semarang.

Kereta ekonomi itu berangkat dari Purwokerto, dan saya perlu sekitar 2 jam saja untuk sampai di stasiun Tugu Jogjakarta.  Saya terkejut dan campur senang ketika  Desember tahun lalu rute tersebut  diperpanjang hingga Tegal dan Pekalongan, menjadi Semarang-Solo-Yogyakarta-Kroya-Purwokerto-Tegal-Pekalongan.

Kereta ekonomi Joglosemar
Kereta ekonomi Joglosemar

Selain itu, beberapa rute kereta akan dikembangkan seperti Semarang-Cepu.  Bulan Desember tahun 2018, PT KAI membuka rute baru jalur selatan Cilacap-Banyuwangi.  Tentu saja, rute ini memudahkan wisatawan untuk berkunjung ke Bromo karena kereta berhenti di Probolinggo.

Sementara itu, di Jawa Barat akan dibangun rute kereta api  yang  mengarah ke Pangandaran, Ciwidey, Garut, dan Sumedang.  Kota-kota kecil tentu saja akan mendapatkan banyak keuntungan apabila jalur kereta api tersebut dioperasikan.

Selama ini, kota-kota kecil  di Indonesia yang menarik dan menyimpan tempat-tempat wisata terlewati dan terabaikan begitu saja.  Dengan adanya pembukaan rute kereta api baru, pengaktifan rute penerbangan, pembukaan jalan baru, serta perbaikan jalan-jalan menjadikan daerah-daerah terpencil  menjadi lebih mudah dijelajahi. Siapa yang diuntungkan? Wisatawan seperti saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!