Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Desa Wisata Nyarai: Satu Dekade yang Berbuah Manis

Pelibatan Masyarakat untuk Mengembangkan Ekowisata

Usia Desa Nyarai baru dua tahun sebagai desa wisata, tapi pada penghargaan  Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2023 yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, desa yang terletak di Nagari Salibutan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat itu meraih Juara Harapan untuk kategori Daya Tarik Pengunjung. 

Desa Nyarai

Terletak di kaki Bukit Barisan Satu, Desa Wisata Nyarai meliputi area seluas 265.337 hektar, 60 persen wilayahnya merupakan hutan kemasyarakatan dan hutan lindung di kawasan Hutan Gamaran. Ikon Desa Wisata Nyarai adalah Air Terjun Nyarai dan pemancingan di Sungai Batang Gamaran.

Desa wisata yang dihuni 500 kepala keluarga itu dirintis oleh lima orang dengan Ritno Kurniawan sebagai pelopornya. Ia membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lubuk Aluang Adventure tahun 2013. 

Kantor Pokdarwis Desa Wisata Nyarai.

Ritno yang berasal dari Nagari Salibutan awalnya sangat gelisah dengan pembalakan liar di Hutan Gamaran tersebut. Ia mencoba mencari cara agar warga yang tinggal di sekitar hutan tetap dapat mengais rejeki tanpa merusak hutan dengan pembalakan dan perburuan liar.  “Ditemukannya” Air Terjun Nyarai di tengah hutan  membuatnya bertekad untuk memanfaatkan anugerah alam itu sebagai ekowisata. Langkah itu tidaklah mudah, mulanya banyak perlawanan dari pembalak. Sebab, ia menyentuh periuk nasi mereka. 

Lubuak Batu Tuduang, Sungai Batang Gamaran.

Air Terjun Nyarai ditemukan secara tidak sengaja oleh para perambah hutan yang sehari-harinya memang keluar-masuk hutan. Setelah itu, Ritno mempromosikannya melalui media sosial dengan menampilkan foto-foto air terjun yang kemudian  menjadi populer dan menyedot banyak pengunjung dari berbagai tempat, utamanya Sumatera Barat. Pokdarwis Lubuak Aluang Adventure pun didirikan untuk mengatur para pengunjung.  Menurut Fefi Yanda Erwin, salah seorang pembina Pokdarwis, Air Terjun Nyarai sangat ramai dikunjungi tahun 2013-2015.  Bahkan pada tahun 2014, jumlah pengunjung per minggu dapat mencapai 6000-8000 orang.  Para pembalak dan pemburu liar berangsur-angsur meninggalkan kegiatan pembalakan kayu dan menjadi pemandu wisata minat khusus itu. 

Daftar nama pemandu wisata khusus di Desa Wisata Nyarai yang dulunya sebagai pembalak hutan.

Saat ini, Pokdarwis di Desa Wisata Nyarai memiliki 130 pemandu yang dibina olek Ritno dan kawan-kawan. Rata-rata mereka sudah memiliki lisensi, beberapa di antaranya mendapatkan pelatihan survival di alam bebas dengan standar internasional. Mereka dilatih oleh tim dari the National Geographic.

Dengan kerja keras, Ritno dan kawan-kawan mampu mengubah kebiasaan para pembalak dan pemburu liar  menjadi pemandu wisata minat khusus.  Berkat usahanya, Pokdarwis Lubuk Alung Adventure meraih juara II Pokdarwis tingkat nasional 2014. Setahun kemudian, proyek pemberdayaan masyarakat di Hutan Gamaran dinominasikan oleh EXPED–perusahaan Amerika yang mengkhususkan pada alat keperluan wisata alam bebas–untuk proyek dukungan pendanaan konservasi internasional dari European Outdoor Conservation Association (EOCA), sebuah organisasi amal dari European Outdoor Group. Proyek tersebut memenangkan kategori outdoor pada voting secara online, mengalahkan Peru, Paraguay, Filipina, dan Afrika Selatan. Pemerhati lingkungan dan naturalis dari the National Geographic, Tom Corcoran,  juga mengangkat kisah tentang transformasi pembalak di Hutan Gamaran menjadi pemandu wisata minat khusus.   Tulisan tersebut dimuat di majalah Terralingua, majalah bertema pelestarian alam dan budaya di dunia. Tahun 2018, Desa Nyarai juga menerima penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Sumatera Barat. 

Jalur menuju Air Terjun Nyarai.

Menjaga Alam dengan Ekowisata

Sejak 2013, Pokdarwis di Desa Wisata Nyarai sudah menggarap proyek penanaman hutan di Hutan Gamaran.  Mereka tidak lagi berjalan sendiri, banyak pihak yang sudah sadar mendukung langkah mereka. Proyek konservasi tersebut tetap menjadi salah satu kegiatan di Desa Wisata Nyarai hingga sekarang.  Bahkan, Pokdarwis bekerja sama dengan kalangan akademisi seperti Jurusan Biologi Universitas Andalas Padang untuk mengidentifikasi nama-nama Latin tanaman tersebut. Saat ini, menurut Erwin, sudah 16,000 bibit pohon yang ditanam. Pengunjung juga dapat menyumbang pohon dan menanamnya langsung di Hutan Gamaran.

Jalan menuju Air Terjun Nyarai yang ditanami bibit-bibit pohon.

Air Terjun Nyarai

Nama “Nyarai” berasal dari sebutan warga lokal, kata tersebut berarti air yang memisah atau membuih. Sebab, ketika jatuh dari ketinggian sekitar 8 meter, tumpahan air  itu membentuk buih-buih seperti butiran kecil. Warga lokal menyebut airnya menyarai. 

Air Terjun Nyarai (sumber foto: Desa Wisata Nyarai)

Yang unik, air terjun tersebut tumpah ke kolam batu alami.   Penggerusan atau abrasi batu tersebut telah berlangsung selama jutaan tahun. Akibat penggerusan tersebut, batu di dasar kolam juga membentuk dasar yang menyerupai kuali, sehingga air terjun terbendung dalam kolam. Saat ini kolam alami tersebut berdiameter sekitar 15 meter.  Sekeliling kolam ditumbuhi  dengan pepohonan lebat yang daun-daunnya memberikan pantulan warna kehijauan yang indah. 

Air Terjun Nyarai

Dari Pos 1 dekat kantor Pokdarwis, Air Terjun Nyarai berjarak kurang lebih 5,5 kilometer dan dapat dicapai dengan berjalan kaki menyusuri Sungai Batang Gamaran yang merupakan tumpahan aliran Air Terjun Nyarai serta menembus Hutan Gamaran.  Waktu tempuh ke lokasi bervariasi bergantung pada kondisi alam, kondisi tubuh, dan kemampuan seseorang menembus alam liar. Seorang pemandu biasanya membutuhkan 2 jam untuk mencapai Air Terjun Nyarai. Waktu yang dianjurkan untuk ke Air Terjun Nyarai adalah pagi hari. Tidak dianjurkan untuk berangkat ke air terjun di atas tengah hari, bahkan akses ditutup pada pukul 3 sore untuk menghindari tiba di lokasi menjelang malam.

Rute menuju Air Terjun Nyarai.

Lubuak

Sungai Batang Gamaran adalah sungai idaman. Sungai tersebut mengalir di antara semak-belukar Hutan Gamaran terus hingga mendekati Bandara  Internasional Minangkabau di Katapiang, Kabupaten Padang Pariaman.  Tentu saja, kualitas air sungai yang mendekati hulu jauh lebih baik.  Aliran Sungai Batang Gamaran yang mendekatii hulu, airnya berwarna hijau tosca, lebih jernih, dan, yang istimewa, lebih banyak ikannya. 

Sungai Batang Gamaran yang dekat hulu.

Di sepanjang Sungai Batang Gamaran terdapat beberapa  kolam alami atau lubuak  yang menawan.  Lubuak tersebut juga menjadi daya tarik pengunjung. Ketika berjalan menuju Air Terjun Nyarai, pengunjung akan melalui  beberapa lubuak mulai dari Lubuak Lalang, Lubuak Ngungun, Lubuak Batu Tuduang, Lubuak Sikayan Limau, Lubuak Pasangkuan, Lubuak Kasai Ketek, dan Lubuak Kasai Gadang.

Lubuak Ngungun tempat terjun ke Sungai Batang Gamaran.

Lubuak Lalang, misalnya, adalah tempat yang dibolehkan untuk memancing. Di situ juga menjadi tempat anak-anak desa bermain air dan berendam, karena agak dangkal dan terbuka. Lubuak Ngungun biasa dijadikan tempat untuk terjun ke sungai karena kedalamannya. Yang menarik adalah pantai mini di Lubuak Batu Tuduang. Disebut pantai karena ada tepian sungai yang berpasir mirip di tepi pantai.  Berbeda dengan pantai di laut, pantai di Lubuak Batu Tuduang ini pasirnya sangat mudah merosot masuk ke dalam ketika diinjak.  Kesamaan dari semua lubuak  tersebut adalah airnya yang jernih, menyegarkan, dan sangat sejuk.

Lubuak Batu Tudung yang berpasir.

Ikan Larangan

Nagari Salibutan memiliki kearifan lokal dalam mengambil ikan dari Sungai Batang Gamaran. Kearifan lokal tersebut adalah larangan mengambil ikan dengan cara apa pun yang dapat merusak lingkungan. Jadi, pengunjung tidak akan menemukan orang menjaring ikan apalagi menggunakan racun potas di sungai. Larangan tersebut termaktub dalam hukum adat mereka yang kemudian diperkuat dengan peraturan nagari. Larangan itu dikaitkan juga dengan mitos bahwa keberadaan ikan di Sungai Batang Gamaran adalah untuk menjaga keseimbangan alam. Kearifan lokal tersebut telah diwariskan turun-temurun.

Atraksi dikelilingi ikan gariang di Lubuak Lalang Sungai Batang Gamaran.

Bagian di Sungai Batang Gamaran yang ikannya tidak boleh dijamah disebut Lubuak Larangan yang membentang dari Lubuak  Batu Tuduang hingga terus ke hilir. Ikan yang hidup di kawasan itu disebut ikan larangan. Hanya masyarakat setempat yang masih diperbolehkan mengambil ikan larangan, tapi terbatas sesuai dengan kebutuhan mereka dan dengan cara tertentu yang ramah lingkungan. 

Ikan gariang berenang bebas di Lubuak Lalang.

Pada waktu tertentu yang sudah disepakati pengelola nagari biasanya saat Maulid, setahun sekali masyarakat dapat mengambil ikan larangan bersama-sama. Tapi, ada banyak syaratnya seperti hanya boleh mengambil ikan berukuran tertentu dengan jumlah seperlunya saja. Ikan yang banyak hidup di Lubuak Larangan kebanyakan adalah ikan gariang (mansheer).

Fly Fishing dan Spearfishing

“Saya sudah beberapa kali kemari,” kata seorang pemandu wisata asal Singapura  yang membawa dua wisatawan asal Tiongkok. Mereka jauh-jauh datang hanya untuk fly fishing di Sungai Batang Gamaran. “Saya gemar fly fishing, di Malaysia ikannya tidak sebanyak di sini,”  si pemandu menambahkan lagi. 

Wisata minat khusus mansheer fly fishing dan spear fishing yang dikelola Pokdarwis.

Karena pengambilan ikan di Sungai Batang Gamaran sudah dilakukan dengan berwawasan lingkungan, tidak heran jika ikan di sana jumlahnya melimpah. Di Lubuak Lalang, yang juga merupakan kawasan Lubuak Larangan, anda akan dikerubuti ikan-ikan gariang begitu anda mencebur ke sungai. Asalkan anda tidak bergerak, ikan-ikan tersebut akan mengitari anda, suatu pemandangan yang tidak dijumpai di sungai-sungai lain.  Karena fenomena ini, banyak wisatawan, lokal atau internasional,  yang membawa anak-anak bermain air di Lubuak Lalang.

Lubuak Lalang di Sungai Batang Gamaran tempat anak-anak bermain.

Mereka yang melakukan fly fishing di kawasan Lubuak Larangan wajib melepaskan kembali ikan yang telah ditangkap. Para pemancing tersebut memiliki alat pancing dengan mata kail khusus sehingga ketika tertangkap ikan-ikan tersebut tidak mati tersedak mata kail. Selain fly fishing, penggemar spearfishing juga dapat melatih kelihaiannya di Sungai Batang Gamaran. Berbeda dengan fly fishing, spear fishing adalah menangkap ikan menggunakan senapan tradisional berpanah. 

Alat tradisional untuk spear fishing.

Promosi dari mulut ke mulut membuat Sungai Batang Gamaran menjadi tenar sebagai tempat untuk spearfishing dan mansheer fly fishing.  Penggemar fly fishing dari Malaysia dan Singapura secara rutin datang, demikian pula pemancing dari Tiongkok. Negara-negara tersebut menambah daftar negara asal wisatawan yang berkunjung ke Desa Nyarai karena terpukai dengan sungainya yang banyak ikan.  

Yang menjadi pemandu bagi para pemancing tersebut tidak lain adalah pemandu wisata Desa Nyarai yang  dulunya adalah perambah hutan dan pembalak kayu hutan.  Desa Wisata Nyarai adalah contoh jelas bagaimana pelibatan masyarakat, kegiatan wisata yang berbasis konservasi, dan kearifan lokal dapat mencipatakan ekowisata yang berkelanjutan.

Desa Wisata Nyarai

Pemandangan di Desa Wisata Nyarai.

Desa Wisata Nyarai adalah desa yang indah dengan pemandangan sawah yang membentang luas dengan rumah-rumah khas pedesaan. Mata pencarian dari warga desa selain bertani adalah membuat batu-bata dengan skala industri rumah. “Batu-bata dari Kawasan Lubuk Alung sudah dikenal di wilayah Sumatera Barat karena kualitasnya,” ujar Erwin. 

Produksi batu bata skala industri rumah di Lubuk Alung.

Saat ini Pokdarwis juga mendorong ekonomi warga desa terutama kaum perempuan untuk memproduksi asam kandis.  Di halaman rumah-rumah warga terlihat hamparan asam kandis yang dijemur. Asam kandis adalah jenis asam yang digunakan untuk bumbu masakan dari Sumatera yang berkuah dan mengandung santan. Desa Wisata Nyarai menjadi sentra produksi asam kandis yang telah dikemas cantik sebagai oleh-oleh dan juga sirop asam kandis yang menyegarkan. 

Penjemuran asam kandis di Desa Wisata Nyarai.

Ada beberapa homestay di Desa Wisata Nyarai yang pemiliknya sudah menerima pelatihan dari Pokdarwis. Di dekat kantor Desa Wisata Nyarai juga ada dua homestay yang dikelola Pokdarwis. Kebanyakan tamu rombongan biasanya menginap di Kota Padang.

homestay dekat Pokdarwis Desa Wisata Nyarai.

Cara ke Desa Wisata Nyarai

Dengan angkutan umum:

Dari Kota Padang naik KA Pariaman Ekspress jurusan Kota Padang-Kota Pariaman, turun di Stasiun Lubuk Aluang. Dari sana naik ojek ke Kantor Pokdarwis Desa Wisata Nyarai. Waktu tempuh dengan ojek kurang lebih 45 menit menuju Kantor Pokdarwis.

Stasiun Lubuk Alung, pemberhentian untuk menuju Desa Wisata Nyarai.

Dari Bandara Minangkabau Internasional, naik kereta bandara jurusan Kota Padang lalu turun di Stasiun Duku. Dari Stasiun Duku, naik KA Pariaman Ekspress jurusan Kota Pariaman, dan turun di Stasiun Lubuk Aluang.

Catatan: Jadwal kereta bandara dan KA Pariaman Ekspress agak terbatas, jadwal bisa diakses di aplikasi KAI Akses.

Dengan angkutan non-umum: Berkoordinasi dengan Pokarwis Desa Wisata Nyarai untuk penjemputan. 

Kunjungan ke Desa Wisata Nyarai difasilitasi oleh Pokdarwis Desa Wisata Nyarai

Leave a Comment